Penyebab Jumlah Perokok Di Indonesia Terus Meningkat


sumber : vemale.com

Perokok aktif adalah orang yang merokok secara langsung menghisapnya rokok, sedangkan perokok pasif adalah orang yang tidak secara langsung menghisap rokok, tetapi menghisap asap rokok yang dikeluarkan dari mulut orang yang sedang merokok.

Sudah sejak jaman dahulu kala rokok dikenal masyarakat Indonesia. Dulu rokok hanya terdiri dari kulit jagung kering yang membungkus tembakau dan ketika dibakar berbunyi 'kretek kretek'. Makanya terkenal dengan nama rokok kretek. Rokok linting ini bertahan sangat lama hingga muncul inisiatif untuk mencampurkan saus cengkeh pada tembakau rokok kretek. Inisiatif ini dimulai oleh Haji Djamari seorang warga kota Kudus yang awalnya bereksperimen untuk menghilangkan nyeri di dada.

Ternyata eksperimen Haji Djamari berhasil dan percobaan rokoknya diterima masyarakat. Banyak yang mengklaim nyeri di dada mereka mereda setelah menghisap rokok racikan Haji Djamari sehingga rokok buatannya menuai banyak pesanan. Sebenarnya tidak ada korelasi antara nyeri di dada dengan menghisap tembakau yang dicampur dengan saus cengkeh. Mungkin masyarakat pada saat itu hanya tersugesti oleh Haji Djamari. Yang jelas, sejak saat itu rokok mulai menyebar ke daerah-daerah lain di pulau Jawa. 

Setelah rokok kretek terkenal, banyak orang-orang mulai memproduksinya. Mulai dari warung-warung gurem hingga pedagang-pedagang dalam skala besar. Semua penjual rokok baik yang besar maupun kecil memiliki pelanggan sendiri-sendiri sehingga para penjual rokok pada saat itu banyak mendulang untung. 

Pedagang yang memiliki modal besar dengan segera menjadi lebih berkembang sehingga mampu mendirikan pabrik dan membeli mesin untuk memproduksi rokok dalam jumlah besar dalam waktu yang lebih singkat. Beberapa merek rokok yang berhasil mempertahankan namanya antara lain Djarum, Djamboe Bol dan Sukun.

Perusahaan-perusahaan rokok tersebut menyerap begitu banyak tenaga kerja dan memberikan sumbangsih yang besar terhadap perkembangan kota asalnya. Contohnya kota Kudus yang terkenal dengan perusahaan-perusahaan rokoknya dari yang kecil hingga yang besar. Bahkan mendapat julukan sebagai Kota Kretek.


sumber : tribunnews.com

Awalnya rokok hanya dikonsumsi oleh orang-orang yang bekerja di lapangan seperti kusir, supir, tentara, pekerja bangunan. Namun, seiring perkembangan jaman, rokok mulai dikonsumsi semua kalangan. Bahkan sudah merambah ke anak-anak dan remaja usia sekolah. Inilah yang jadi masalah generasi muda saat ini. 

Beberapa waktu lalu sempat menjadi perbincangan tentang balita yang sudah menjadi perokok aktif. Bahkan videonya sempat menjadi viral. Kalau biasanya balita hanya menjadi perokok pasif, kali ini balita menjadi perokok aktif. Dan hal ini tidak terjadi hanya sekali tapi beberapa kali di beberapa daerah di Indonesia. 

Pasti timbul pertanyaan dalam benak kita, apa orang tua si anak tidak melarang? Apa sebegitu cueknya hingga orang-orang yang tinggal di lingkungan si anak tidak bersikeras melarangnya? 

Sebelum membahas lebih jauh, sebaiknya kita lihat dulu beberapa fakta yang berkembang di Indonesia seputar rokok. 
  • Tahun 1995 sekitar 27% penduduk Indonesia berusia diatas 15 tahun mengkonsumsi tembakau dan jumlahnya meningkat menjadi 36,3% pada tahun 2013. (sumber : Data Riset Kesehatan Dasar )
  • Masih di tahun yang sama, 1995, sekitar 9,6% penduduk Indonesia berusia 5 - 14 tahun mulai mencoba merokok dan di tahun 2001 jumlahnya naik menjadi 9,9% dan naik lagi menjadi 19,2% pada tahun 2010.
  • Tahun 2011 Indonesia mendapatkan predikat sebagai salah satu negara dengan jumlah perokok aktif terbanyak di dunia. Sekitar 67% adalah pria dan 2,7% adalah wanita. (sumber : Data Global Adult Tobacco Survey / GATS Indonesia Report, 2011.)
  • Yang terasa miris adalah pada tahun 2014, Indonesia kembali mendapat predikat dengan jumlah perokok remaja tertinggi di dunia. Sekitar 20% dari seluruh pelajar SMP di Indonesia yang berusia 13 - 15 tahun sudah pernah merokok.  (sumber : Global Youth Tobacco Survey)
  • Selain jumlah perokok aktif yang meningkat, jumlah perokok pasif pun mengalami hal yang sama. Jumlah perokok pasif di Indonesia sebanyak 96 juta jiwa dan didominasi oleh wanita dan bayi. (Kemenkes, 2015)
  • 3 dari 10 orang di Indonesia adalah perokok dan didominasi oleh kaum pria. Sedangkan jumlah perokok wanita dan anak-anak terus bertambah.
  • Di Indonesia jumlah konsumsi rokok mencapai 36,4% atau lebih dari sepertiga jumlah penduduk Indonesia.
  • Selain merusak kesehatan, rokok juga menimbulkan masalah baru yaitu sampah. Karena puntung rokok merupakan sampah terbanyak di Indonesia.

Pertanyaan utamanya adalah mengapa seseorang menjadi perokok? Apa alasan mereka sehingga mengorbankan kesehatannya demi kenikmatan semu? 

Banyak alasan yang mendasari seseorang untuk menjadi perokok aktif, salah satunya dari faktor sekitar atau lingkungan.

Seseorang cenderung akan menjadi perokok ketika hidup di lingkungan perokok. Bisa dimulai dari rasa penasaran akan rasanya rokok hingga meniru perilaku para perokok.


sumber : idntimes.com

Contoh nyatanya adalah ketika didalam satu keluarga terdapat seorang ayah yang perokok, kemungkinan besar anak-anaknya ada yang menjadi perokok. Sosok ayah adalah figur yang menjadi panutan anak-anaknya. Mungkin memang terdengar simple tapi kebiasaan merokok sang ayah akan ditiru oleh anak-anaknya. Meskipun tidak semua seperti itu tapi sebagian besar yang terjadi di masyarakat adalah ayah perokok akan melahirkan calon-calon perokok aktif di masa depan. 

Salah satu contoh kecil lainnya yang terjadi di masyarakat adalah seringnya sang ayah yang  perokok menyuruh si anak membeli rokok di warung. Penjual rokok yang awalnya mengira si anak membeli rokok untuk bapaknya. Namun, karena sudah menjadi kebiasaan, ketika si anak mencoba membeli untuk dirinya sendiri, penjual tidak menaruh curiga karena berpikiran pasti rokok itu untuk bapaknya. 

Jika kejadian ini terus berlangsung berulang-ulang, tanpa disadari si anak sudah menjadi perokok aktif. Karena dia meniru bapaknya yang perokok dan terbukanya jalan untuk menjadi perokok semakin lebar. 

Faktor lingkungan lainnya adalah pergaulan. Memang benar adanya jika pergaulan yang buruk akan berimbas pada kepribadian seseorang. Termasuk juga kebiasaan merokok.

Hal ini sangat berpengaruh sekali khususnya pada anak-anak usia sekolah. Biasanya untuk sekedar iseng atau menjahili temannya, mereka dipaksa untuk merokok dengan dorongan bullying atau sindiran-sindiran yang menohok.

Contoh kasus jika ada yang tidak merokok akan dibilang ga laki dan dibilang seperti banci. Padahal kenyataannya justru banci-banci lah yang sering merokok dipinggir jalan. 

Aneh kan? 

Mereka tahu bahwa merokok salah jadi mereka berusaha mengajak teman-temannya agar seperti mereka. Tekanan-tekanan sosial seperti inilah yang mampu menggoyahkan pendirian anak-anak remaja.

Saya acungi jempol bagi siapa saja yang mampu melawan ajakan untuk merokok. Karena saya dulu termasuk yang tidak kuat menahan godaannya.

Mungkin masih banyak faktor lain yang mempengaruhi seseorang menjadi perokok aktif, namun menurut saya sebagai mantan perokok aktif, faktor lingkungan tersebut merupakan faktor utama yang sukses membuat saya jadi perokok selama 15 tahun.

Lalu mengapa jumlah perokok aktif di Indonesia terus meningkat?

Ini adalah pertanyaan utamanya, mengapa jumlah perokok aktif di usia anak-anak, remaja dan orang dewasa di Indonesia terus meningkat?

Secara garis besar ada 2 alasan utama mengapa jumlah perokok meningkat :

1. Regulasi untuk industri rokok masih longgar

Bicara masalah peraturan tidak lepas dari peran pemerintah. Pemerintah sudah barang tentu tidak lepas tangan dalam mengatur penjualan rokok. Peraturan pemerintah mengatur mulai dari penjualan dan promosi rokok. Namun, beberapa pakar menyebutkan bahwa peraturan untuk promosi dan penjualan rokok di Indonesia masih sangat permisif atau masih longgar.

Di Indonesia, peraturan tentang promosi iklan rokok diatur oleh dua Undang-Undang yaitu PP No. 109 Tahun 2012 tentang Pengendalian Kegiatan Promosi Tembakau dan Undang-Undang tentang penyiaran dan pers

Peraturan yang ada dinilai masih terlalu permisif terhadap promosi-promosi yang dilakukan oleh perusahaan rokok. Hal ini dapat dilihat dari masih banyaknya iklan-iklan rokok yang wara wiri di media yang dapat diakses oleh siapa saja. Contoh paling gampang iklan yang ada di media cetak seperti majalah, koran, papan billboard dan iklan yang ada di televisi. 

Padahal diantara negara-negara Asean, hanya Indonesia yang masih menayangkan iklan rokok. Memang untuk penayangannya sendiri sudah diatur yaitu diatas pukul 21.30 dan dilarang untuk menampilkan wujud rokok. Namun, tetap saja iklan rokok masih bisa diakses oleh siapa saja termasuk anak usia sekolah. 

Iklan rokok memang terasa sangat menggiurkan bagi stasiun televisi swasta. Sebagai bocoran, biaya pemasangan iklan rokok untuk sekali tayang selama 30 detik per satu spot adalah 35 sampai 58 juta rupiah. Angka yang fantastis bukan? Mungkin ini salah satu penyebab masih banyak iklan rokok yang mondar mandir di televisi. 

Selain pada iklan, kelonggaran juga terjadi pada event-event promosi yang dilakukan oleh perusahaan rokok. Biasanya event yang digelar adalah event musik seperti konser atau event olahraga seperti nobar yang sangat digemari oleh anak-anak muda. Tujuan digelarnya acara-acara semacam ini memang tidak untuk menjual produk mereka secara langsung, namun dengan tujuan menjaga popularitas produk mereka. Terbukti acara-acara yang di sponsori oleh produsen rokok selalu sukses. 

Sebenarnya bukan hanya para pemilik media yang mendapatkan untung dari mempromosikan rokok, tetapi pemerintah juga mendapatkan keuntungan. Bedanya, pemerintah mendapatkan untung dari cukai rokok. Angka yang didapat juga sangat fantastis. Angka terakhir yang tercatat adalah 55 Triliyun pendapatan dari cukai rokok yang diterima pemerintah Indonesia.

baca juga : efek buruk rokok elektrik turunkan resiko memiliki anak

2. Harga rokok di Indonesia masih relatif murah

Alasan kedua adalah harga rokok di Indonesia dibandingkan negara-negara Asia lainya seperti Malaysia, Singapura, Thailand dan India relatif lebih murah. Bayangkan saja, dengan uang 1500an sudah bisa digunakan untuk mengirim racun yang ada didalam rokok masuk kedalam tubuh.

Dengan harga segitu, tidak heran jika rokok dapat dijamah oleh anak-anak usia sekolah. Yang lebih parah, si penjual rokok atau pemilik warung terkesan membiarkan hal ini. Miris, bukan? Penghancuran generasi-generasi muda dilakukan oleh orang-orang disekitarnya.

Dalam hal ini sebenarnya pemerintah sudah melakukan upaya pencegahan yaitu dengan menaikkan harga rokok. Namun yang terjadi dilapangan tidak sesuai dengan harapan. Kenaikan harga rokok tidak terjadi secara serentak dan hanya terjadi di daerah-daerah tertentu. Khusus di daerah terpencil, kenaikan harga rokok hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu saja seperti menjelang lebaran atau pada saat terjadinya kenaikan harga BBM.

Dengan kata lain, kondisi rokok dijual dengan harga murah masih terjadi. Selain itu, kenaikan harga rokok hanya terjadi untuk satu bungkus rokok tapi tidak untuk 1 batang rokok.

Kira-kira perhitungannya seperti ini, harga 1 bungkus rokok adalah Rp 15.000,- dan jika dijual eceran atau batangan harganya Rp 1.500,-. Dengan nominal uang saku anak-anak sekolah jaman sekarang, harga segitu bukan harga yang sulit untuk didapatkan. Tidak kentara, pelan tapi jelas mulai meracuni generasi muda. 

Yang paling membuat sedih adalah rokok dijual di warung-warung yang dekat dengan sekolah. Dan tidak hanya menjual rokok secara bebas, para pemilik warung juga menyediakan korek diatas dagangannya. Seakan-seakan memberikan keleluasaan kepada para penikmat rokok yang masih di usia sekolah. 

Hal ini sudah menjadi pemandangan sehari-hari karena saya pun dulu mengalaminya. Kami dengan bebas merokok di jam istirahat di warung-warung yang lokasinya bersebelahan dengan sekolah kami. 

Dengan kondisi seperti ini yang umum terjadi di masyarakat kita, tidak lantas membuat kita membenci warung atau pedagang kaki lima yang berserakan di dekat area sekolah. Mereka juga mencari penghidupan melalui berjualan. Yang harus dirubah adalah kesediaan para pemilik warung menjual rokok batangan kepada para siswa. 



Jika pemilik warung rokok lebih sadar dan peduli terhadap kesehatan anak-anak dan remaja usia sekolah, jumlah perokok di usia ini jelas akan mengalami penurunan. Mereka harus ketat dan peduli akan hal tersebut.

baca juga : rokok bikin tulang keropos

Kembali lagi peran dari orang tua juga perlu ada disini. Orang tua juga harus memperhatikan perkembangan si anak, lingkungan dimana mereka biasa berinteraksi, membatasi pergaulan yang tidak perlu dan tidak mencontohkan menghisap rokok di depan anak-anak. 

Tidak hanya orang tua yang harus berperan aktif, pihak sekolah pun juga harus pro aktif. Salah satunya dengan tidak merokok di lingkungan sekolah. Kalau murid dilarang merokok di sekolah, kenapa guru boleh merokok? 

Sama saja dengan larangan membawa ponsel ke sekolah tapi pada saat mengajar masih ada beberapa guru yang menerima panggilan. Rasanya tidak adil. Jadi kalau ingin siswa - sekolah jauh dari rokok, guru-guru yang merokok pun harus menjauhi rokok. Paling tidak jangan merokok di sekolah atau di depan murid-murid. 

Setiap perokok pasti mengalami momen ini, dilarang merokok oleh orang tua dan guru tetapi mereka dengan santainya merokok didepan kita. Ini juga yang memicu seseorang menjadi perokok. Rasa penasaran dan dendam. 

Lalu, bagaimana caranya agar dapat berhenti merokok?

Berhenti merokok merupakan sesuatu yang sangat susah dilakukan terutama oleh perokok berat. Tapi, bukan tidak mungkin. 

Contohnya saya. 

Saya sudah merokok selama 15 tahun dari tahun 1997 hingga 2012 dan sekarang sudah sukses berhenti merokok selama 6 tahun. 

Caranya bagaimana ? 

Caranya adalah dengan berhenti secara mendadak. 

Ya, benar. Berhenti begitu saja.

Tidak ada metode apa-apa dan langsung berhenti begitu saja. Justru yang paling berat adalah hari-hari setelahnya. Begitu banyak godaan yang datang mendera. Mulai dari mengatasi rasa kecanduan yang menyiksa, hidung yang menjadi alergi terhadap debu dan dingin. Tapi, saya fokuskan ke manfaat yang didapat setelah saya berhenti merokok. 

Manfaat yang saya dapatkan setelah berhenti merokok adalah dada terasa lebih ringan setelah bangun tidur. Dulu waktu masih jadi perokok, tiap bangun tidur dada terasa berat dan nafas menjadi sesak. 

Selain terbebasnya saluran pernafasan, berhenti merokok juga memulihkan stamina serta imunitas tubuh. 

Untuk mencegah keinginan kembali merokok, sebaiknya mulai menyibukkan diri dengan kegiatan yang positif seperti olahraga. Agar racun-racun yang dulu mengendap di dalam tubuh dapat terdetoksifikasi dan keluar melalui keringat. 
Mungkin yang paling berat di 2 minggu awal kita berhenti merokok. Tapi setelah itu tubuh akan terasa lebih sehat dan semakin mudah melupakan rokok. Kuncinya adalah yakin dan kepedulian terhadap kesehatan diri sendiri dan keluarga.

Semoga bermanfaat. 

Sumber :
liputan6.com
detikhealth
viva.co.id
tirto.id
kompas.com
femina
kompasiana
wikipedia




Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Penyebab Jumlah Perokok Di Indonesia Terus Meningkat"

Posting Komentar