Penyakit HIV : Penyebab, Gejala, Pencegahan Dan Pengobatannya



"It is bad enough that people are dying of AIDS, but no one should die of ignorance."
-Elizabeth Taylor-

Seputar penyakit HIV - Sejak awal kemunculannya di dunia kesehatan, penyakit HIV menjadi momok paling menakutkan umat manusia di seluruh dunia. Bagaimana tidak? Penyakit HIV merupakan penyakit yang menyerang hal paling penting pada tubuh manusia yaitu sistem pertahanan alami tubuh atau imunitas. Sistem kekebalan tubuh bertugas menjaga tubuh dari penyakit yang masuk dan menyerang tubuh. Tubuh yang telah terinfeksi oleh HIV akan menjadi rentan terhadap segala jenis penyakit, infeksi dan bakteri yang ada disekitarnya. Disinilah letak kengerian yang dibawa oleh HIV.

Mungkin banyak yang mengira bahwa HIV dan AIDS merupakan penyakit yang sama. Sebenarnya HIV dan AIDS bukan penyakit yang sama karena munculnya juga tidak bersamaan dan merupakan dua hal yang berbeda. HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, sedangkan AIDS adalah kondisi dimana infeksi HIV sudah berlangsung lama dan sistem imun atau kekebalan tubuh sudah terlanjur rusak.  Untuk lebih gampang dipahami, AIDS merupakan stadium akhir dari penyakit HIV.

Sebagai catatan, jika ada seseorang yang positif terinfeksi HIV belum tentu dia akan menderita AIDS karena jika si penderita mendapat penanganan yang tepat maka infeksi dari HIV akan ditekan dan menurunkan resiko munculnya AIDS.


Penyakit HIV di Indonesia


Pada tahun 1985, penyakit HIV sebenarnya sudah muncul di Indonesia. Kasus penyakit HIV yang pertama kali ini ditemukan pada laki-laki penyuka sesama jenis dan entah mengapa belum muncul ke publik pada saat itu. Namun, pada tahun 1987 muncul kasus yang sama dan menjadi perhatian pemerintah setelah penyakit tersebut merenggut nyawa seorang berkebangsaan Belanda di salah satu rumah sakit di Bali.

Pada tahun yang sama, pemerintah Indonesia menghadap kepada WHO dan Indonesia menjadi negara ke 13 yang melaporkan adanya kasus HIV. Dengan adanya kasus kematian akibat HIV yang pertama kali ditemukan di Indonesia inilah yang akhirnya memunculkan tolok ukur penyebaran virus HIV adalah melalui para laki-laki penyuka sesama jenis. Seiring waktu, penyebaran penyakit ini merambah pada wanita tuna susila dan para penggunanya.

Di Indonesia, urusan penyakit HIV AIDS ditangani oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Dua badan ini bekerja mengumpulkan data kasus-kasus penyakit HIV/AIDS dan akan mengusahakan upaya-upaya untuk mencegah jumlah penderitanya semakin meningkat.

Dari data yang dihimpun, ada satu fakta menarik yaitu tingginya prosentase pengidap HIV dari kelompok yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga diikuti oleh karyawan, wiraswasta dan orang dengan mobilitas yang tinggi. Selama ini kita mengira para pengidap HIV adalah kelompok yang memiliki orientasi seks yang menyimpang dan para wanita tuna susila, namun fakta berkata lain. 

Tingginya prosentase pengidap HIV dari kelompok ibu rumah tangga memunculkan kesan negatif pada masyarakat dan melabelkan anggapan miring kepada kelompok ini. Jika bicara logika, kelompok ibu rumah tangga sangat tidak mungkin untuk tertular HIV karena ruang lingkup yang sempit. Namun, kemungkinan tertular HIV akan meningkat jika dikaitkan dengan peran suami. Apalagi jika sang suami merupakan karyawan atau wiraswasta dengan mobilitas yang tinggi. 

Jadi, jika kita menemukan seorang ibu rumah tangga yang mengidap HIV jangan serta merta menghakimi bahwa dia merupakan wanita yang 'nakal', justru yang patut dicurigai adalah suaminya yang 'nakal'.

Karena penularan penyakit HIV di Indonesia banyak terjadi pada kelompok pria dibandingkan para perempuan. Presentasenya sekitar 54% pada kelompok pria dengan rentang usia 20 hingga 39 tahun dan sekitar 29% pada kelompok perempuan, sisanya terjadi pada kelompok dengan orientasi seks yang menyimpang. Di Indonesia terdapat 10 propinsi dengan jumlah kasus besar pengidap HIV dan AIDS, yaitu Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan Papua.

Contoh kasus, sempat beredar berita ada sekitar 17.000 pelajar yang positif mengidap HIV di Jawa Tengah. Berita ini didukung pula oleh fakta bahwa angka penularan tertinggi adalah pada rentang usia 20 hingga 29 tahun dengan prosentase 32%, disusul rentang usia 30 hingga 39 tahun dengan prosentase 29,4%, usia 40 hingga 49 tahun dengan prosentase11,8%, usia 50 hingga 59 tahun dengan prosentase 3,9% dan yang terakhir usia 15 hingga 19 tahun dengan prosentase 3%.

baca juga : Masalah Kesehatan Yang Paling Utama di Indonesia

Virus HIV 


Human Immunodeficiency Virus atau HIV termasuk jenis virus yang tidak dapat dihilangkan dan akan terus bersemayam di tubuh seseorang yang terjangkit virus ini selamanya. Kondisi paling parah dari seseorang yang terjangkit HIV adalah munculnya berbagai infeksi dan kanker pada tubuh karena hilangnya sistem pertahanan tubuhnya.

Selama ini banyak yang mengira cara penularan HIV secara umum melalui sentuhan kulit dengan penderitanya seperti berjabat tangan, pelukan, tidur di ranjang yang sama atau melalui air mata, keringat dan ludah. Padahal cara penularan HIV secara umum adalah melalui pertukaran cairan dengan konsentrasi yang tinggi seperti darah, air mani, sumsum tulang belakang, cairan organ genital dan ASI.

Beberapa cara yang paling umum bagi HIV masuk ke dalam tubuh antara lain :


  • Melalui transmisi atau hubungan badan yang tidak terproteksi dengan baik. Tidak terproteksi yang dimaksud disini adalah tidak menggunakan alat pengaman ketika berhubungan badan dengan berganti-ganti pasangan.
  • Melalui transfusi darah dari pengidap HIV. Hal ini terjadi ketika pendonor mendonorkan darahnya kepada penerima tanpa tahu bahwa dia mengidap HIV. Tapi sekarang sudah ada prosedur pendonoran darah yang mengecek kondisi darah dari pendonor apakah bebas dari HIV atau tidak.
  • Melalui darah yang terinfeksi dari pengidap HIV yang ditularkan melalui jarum suntik yang dipakai secara bergantian. Situasi ini biasanya dialami oleh pecandu narkoba jarum suntik dan penikmat tato serta tindik.
  • Melalui kandungan dari ibu yang mengidap HIV terhadap bayinya. Untuk menurunkan resiko penularan HIV kepada bayi, dapat dilakukan dengan kombinasi pengobatan antiretrovirus dan operasi cesar.
HIV merupakan jenis virus yang memiliki struktur biologis yang berbeda-beda. Karakter yang khas dari virus jenis ini adalah masa inkubasi yang panjang sehingga penderita tidak langsung mengetahui bahwa diriya terinfeksi HIV, baru setelah 2-4 minggu mulai muncul tanda-tandanya. Kebanyakan dari penderitanya akan mengalami sakit yang mirip seperti flu dalam waktu lama sekitar 1-4 minggu.

Itupun baru diketahui setelah dilakukan tes HIV. Jika tidak, masa inkubasi HIV bisa sangat lama. Pada beberapa kasus, masa inkubasi virus HIV bisa mencapai 5-10 tahun jika sistem kekebalan tubuh masih kuat dan aktif. Baru setelah daya tahan tubuh semakin melemah karena umur, gejala infeksi HIV mulai terlihat.

Gejala – gejala dari infeksi virus HIV masih terbilang samar dan seringkali dianggap sebagai gejala penyakit lain akibat dari terkikisnya atau melemahnya sistem kekebalan tubuh. 


Ada tiga tahap atau fase gejala yang akan dialami oleh penderita HIV yaitu :


Stadium awal

Stadium awal merupakan fase-fase awal dimana penderita sudah terinfeksi HIV selama 2-4 minggu. Pada fase ini, penderita akan menunjukkan gejala-gejala ringan seperti terserang flu seperti sakit kepala, demam dan sakit tenggorokan. Selain itu, pada tubuh juga akan muncul beberapa ruam pada kulit serta munculnya benjolan pada bagian leher tepat berada dibawah rahang. Pada fase stadium awal biasanya terjadi pula pembengkakan pada kelenjar getah bening.

Stadium asimtomatik (fase tanpa gejala)

Merupakan fase lanjutan dari stadium awal. Fase ini memakan waktu yg sangat lama dan tidak menimbulkan gejala-gejala berarti. Namun, bukan berarti masalah selesai sampai disini. Justru pada fase inilah infeksi virus dari HIV semakin menyerang sistem imun penderitanya. Hal ini akan menjadikan munculnya komplikasi lebih lanjut.

Bagi para penderita HIV yang tidak mendapatkan perawatan intensif, fase asimtomatik akan berlangsung sekitar 10 tahun sebelum memunculkan gejala-gejala lanjutan. Fase asimtomatik juga disebut dengan stadium laten klinis, dimana muncul masalah kesehatan yang menyertainya seperti diare, sesak napas, batuk, penurunan berat badan secara drastis dan demam.

Stadium infeksi oportunistik (fase lanjut )

Stadium terakhir dari infeksi virus HIV adalah fase oportunistik. Pada fase oportunistik sistem kekebalan tubuh sudah mengalami kerusakan total. Hal ini akan menyebabkan menurunnya jumlah sel darah putih di dalam tubuh. Normalnya, sel darah putih didalam tubuh manusia berjumlah 500 sampai 1600 sel per milimeter kubik darah, tapi didalam kondisi ini jumlah sel darah putih hanya 200 sel per milimeter kubik darah.

Dengan jumlah sel darah putih yang menurun, memberikan kesempatan bagi virus HIV untuk mengambil keuntungan dan menyebabkan komplikasi dari penyakit lain karena tubuh sudah dalam kondisi yang sangat rentan. Kondisi tubuh yang rentan akan menyebabkan jamur atau bakteri penyebab pneumonia, toksoplasmosis dan TBC berkembang biak dengan cepat. Pada momen inilah gejala HIV berkembang menjadi AIDS.

Tanda-tanda yang terlihat pada stadium akhir ini antara lain tubuh mengeluarkan keringat berlebihan dimalam hari, demam tinggi 38 derajat Celcius selama satu pekan, munculnya bintik abnormal pada lidah atau mulut, diare parah dan gangguan pada penglihatan.

Pencegahan HIV


HIV bukan penyakit yang mudah menular karena penularan penyakit ini membutuhkan cara khusus dan tidak dapat terjadi secara langsung seperti penyakit menular pada umumnya. Karena sifat khususnya inilah, pencegahan HIV dapat dilakukan, terutama bagi yang tinggal serumah dengan penderita HIV. 

Beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai pencegahan penularan HIV, antara lain :


  • Memahami pola penyebaran HIV. Agar tidak mudah tertular HIV, kita mesti mengerti bagaimana pola penularan HIV. Pahami karateristik dari virus yang menjadi penyebab infeksi HIV. 
  • Jauhi minuman keras dan narkoba. Kedua benda laknat ini akan memberikan efek adiktif pada tubuh yang dapat mengaburkan kesadaran kita sehingga kehilangan pengendalian diri dan dapat menjerumuskan diri kepada hubungan intim yang tidak sehat.
  • Selalu mengedepankan keamanan dalam berhubungan intim. Kesetiaan itu perlu dan merupakan cara ampuh dalam menghindarkan diri dari penularan HIV. Karena salah satu cara penularan HIV adalah melalui bergonta ganti pasangan. Selain itu, sebaiknya gunakan alat pengaman dalam berhubungan intim jika pasangan kita termasuk pengidap HIV. Yang paling penting, jangan pernah sekali-kali melakukan hubungan sesama jenis.
  • Jangan sekali-kali berbagi jarum atau alat suntik. Seperti dijelaskan diatas, salah satu penularan HIV adalah melalui penggunaan jarum suntik yang bergantian. Contohnya, jarum pada pembuatan tato dan jarum yang digunakan pada pemakaian obat terlarang.
  • Jangan menyentuh darah atau cairan konsentrasi tinggi dari orang lain karena kita tidak tahu kondisi seseorang apakah dia merupakan pengidap atau bukan.
  • Melakukan perawatan medis jika mengidap HIV dalam kondisi hamil. Hal ini dilakukan untuk menurunkan resiko tertularnya HIV pada calon bayi.
baca juga : Cara Aman Menghindari Kanker Payudara

Pengobatan HIV 


Sayangnya, hingga saat ini belum ditemukan obat yang dapat menghilangkan virus penyebab HIV. Pengobatan yang ada hanya bersifat menekan virus HIV dan mencegahnya berkembang. Tujuan dari pengobatan ini adalah menghilangkan atau menciptakan lingkungan yang membuat virus tidak dapat menggandakan diri dan tidak menyerang sel darah putih. Obat-obatan yang dapat melakukan usaha tersebut antara lain, efavirenz, etravirine, nevirapine, lamivudin, zidovudin dan disebut sebagai antiretroviral atau ARV.

Untuk pengobatan ARV, pasien diharapkan tertib dalam mengkonsumsinya. Jika terjadi kelalaian, akan meningkatkan resiko berkembangnya virus HIV dan munculnya AIDS. Meskipun obat-obatan ARV dapat dikonsumsi lebih dari satu kali selama sehari, obat-obatan ini juga memiliki beberapa efek samping, antara lain :


  • Diare
  • Perut mual dan muntah
  • Mulut terasa kering
  • Tulang menjadi rapuh
  • Naiknya kadar gula
  • Kadar kolesterol menjadi tidak normal
  • Jaringan otot menjadi rusak
  • Sakit jantung
  • Sakit kepala dan pusing
  • Insomnia
  • Tubuh terasa lelah


Selama menjalani pengobatan antiteroviral, penderita HIV diharapkan menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan gagalnya pengobatan, seperti


Tidak rutin meminum obat

Pengobatan retroviral sangat bermanfaat untuk menjaga sistem kekebalan tubuh tetap aktif. Tidak patuh dengan aturan dokter dalam mengkonsumsi obat ARV akan menurunkan keefektifitasan dari obat tersebut dan memperburuk kondisi penderita HIV. Jika kondisi memburuk, akan berkembang pada AIDS karena sistem kekebalan tubuh sudah mengalami kerusakan.

Jika pasien lupa atau melewatkan jadwal minum obat, sebaiknya segera dilanjutkan untuk dosis berikutnya. Namun, jika melewatkan jadwal minum obat terlalu lama, sebaiknya konsultasikan kepada dokter untuk peningkatan dosis selanjutnya,


Masih menggunakan narkoba suntik

Tetap menggunakan narkoba suntik sama saja dengan menjadikan terapi ARV sia-sia karena virus HIV masih masuk ke dalam tubuh. Narkoba suntik menjadi penyebab nomor 2 terbanyak seseorang terinfeksi virus HIV. 


Merokok

Efek buruk rokok adalah menurunkan sistem kekebalan tubuh karena racun dari rokok merusak organ internal didalam tubuh bahkan meningkatkan resiko penyakit berbahaya seperti penyakit jantung dan paru-paru. Kebiasaan merokok akan membuat terapi ARV menjadi tidak optimal karena pelemahan sistem kekebalan tubuh terjadi berkali lipat.

baca juga : Penyebab Jumlah Perokok di Indonesia Terus Meningkat

Tidak segera melakukan terapi HIV

Menunda terapi HIV akan sangat merugikan bagi penderita HIV karena semakin lama menunda akan semakin parah sistem kekebalan digerogoti oleh virus HIV. Dengan menunda terapi ARV, penyebaran virus didalam tubuh tidak dapat dideteksi dan pengobatan tidak dapat berlangsung optimal.


HIV merupakan penyakit yang sangat berbahaya dan dapat menyerang siapa saja tanpa terkecuali, bahkan bayi yang berada didalam kandungan. Untuk menghindari penyakit HIV, tidak hanya dibutuhkan pola hidup sehat namun perlu dilakukan usaha ekstra untuk menghindari segala hal yang menjadi pemicu seseorang terinfeksi HIV. Penyakit HIV dapat dihindari dengan tidak melakukan hubungan sesama jenis, tidak mengkonsumsi narkoba dan alkohol terutama narkoba jenis suntik, tidak mentato tubuh dan tidak bergonta ganti pasangan.

Semoga bermanfaat.

sumber : 
alodokter.com
hellosehat.com
lifestyle.kompas.com
pkbi.or.id




Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Penyakit HIV : Penyebab, Gejala, Pencegahan Dan Pengobatannya"

Post a Comment